oleh

Warga Sampang : Begini Kondisi Konflik Papua Saat Ini

Sampang, Kabartegas.com- Disaat kericuhan atau terjadinya konflik di Wamena, Papua, banyak para pekerja asal luar daerah yang berada di daerah konflik tersebut, mengalami tekanan batin atau traoma.

Dari ketraomaan itu, menurut Herman warga Desa Kanjar, Torjun, menceritakan, banyak warga bukan asli setempat, mengalami penindasan. Bahkan Herman mengaku, milik usahanya serta rumahnya ludes dibakar. Sehingga, dirinya bersama warga lainnya asal Sampang, terpaksa pulang untuk menyelamatkan diri dari keberingasan warga Wamena.

” Warga Sampang di Wamena kebanyakan bekerja sebagai sopir, ojek dan pedangan. Dari kejadian itu, banyak yang tidak bisa diselamatkan. Hanya saja mereka bisa mengamankan sebagian pakaian dan barang-barang kecil yang bisa dibawa.” keluhnya.

menceritakan sepintas situasi dan kondisi di papua, Rabu malam, 2 Oktober 2019.
Sementara Bupati Sampang, Slamet Junaidi menyampaikan, atas diberi kesehatan dan keselamatan, dirinya mengucapkan atas rasa syukur karena warga telah tiba dengan selamat. Selain itu, atas terjadinya konflik Papua, bagi para korban agar bersabar diri atas musibah yang tidak bisa di pungkiri lagi.

“Atas kejadian ini, maka harus menjadi pelajaran bagi kita semua terutama bagi warga perantau yang ada di Papua. Nanti kami minta untuk Dinsos dan bagian Kesra untuk melakukan monitoring bagi saudara-saudara kita yang telah tiba di Sampang,” katanya.

Pihaknya berharap dan berdoa agar para perantau yang masih belum pulang ke daerah asalnya, baik-baik saja.”banyak warga kita masih belum pulang, kami tetap monitoring hingga warga perantau betul-betul semuanya kembali,”tegasnya.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial, belasan korban konflik Wamena, Papua yang tiba ke Sampang pada gelombang II yaitu rinciannya perempuan lima jiwa dan laki-laki 12 jiwa dan empat diantaranya masih anak-anak. Sedangkan dari 15 jiwa merupakan dari asal warga Desa Taman Sareh, satu jiwa asal Desa Panggung, Kecamatan Sampang, dan satu warga lainnya asal warga Desa Kanjar, Kecamatan Torjun.

Sedangkan pekerjaannya, tujuh orang berprofesi sebagai tukang ojek dan enam orang sebagak pedagang. Sedangkan gelombang pertama, sebanyak 34 orang yang bekerja sebagai sopir.

 

Reporter : Rosy A
Editor      : Abdi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed